
Ketika itu mentari pagi mulai
menampakkan sinar terangnya dan suatu ketika ada seorang anak SMA yang bernama Syafaq
berjalan menelusuri pantai menuju sekolahnya demi menggapai asa menjadi seorang researcher dengan predikat lulusan luar
negeri. Maklum
ia hanyalah
seorang anak pencari batu yang tinggal di dekat pantai. Setiap hari Syafaq harus menempuh jarak yang
tidaklah dekat hanya dengan berjalan kaki, walaupun demikian senyum manis dan senyum
optimisnya selalu hidup di wajah tampannya itu dan dengan kekuatan penuh cinta
ia berusaha menjadikan dirinya sebagai insan muda cendekia yang mampu
mengispirasi Indonesia. Hal ini tak lain ia lakukan hanya demi meraih asanya “ I’m is a young researcher ”. Kurang
lebih seperti itulah seorang Syafaq mendefinisikan dirinya sebagai seorang
peneliti muda, menjadi seorang peneliti adalah cita-citanya sejak ia memasuki
bangku sekolah dimana ia telah membangun mimpinya dengan mengikuti berbagai
ajang olimpiade penelitian ataupun kompetisi bergengsi bidang sains baik
tingkat regional, nasional, maupun internasional dengan segudang prestasinya
yang telah mengharumkan bumi pertiwi ini.
Dan satu hal
yang harus serta perlu kita ketahui bersama agar hal ini mampu memberikan
pelajaran serta mampu menginspirasi anak bangsa walaupun ia hanyalah anak seorang pencari batu tetapi semangatnya untuk
mewujudkan cita-cita dan impiannya sungguhlah luar biasa. Selain sekolah dan
membantu orang tuanya mencari batu, ia juga rajin mengaji dan sholat. Sejak
awal masuk kelas 3 SMA ini Syafaq berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih
rajin beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak hal yang ia
lakukan mulai dari puasa senin kamis, sholat lail/ sholat malam, dan sholat-sholat sunah
lainnya.
Semua
ini ia lakukan tak lain adalah agar Allah mempermudahnya sekaligus agar bisa terus
mendapatkan beasiswa full funded untuk melanjutkan
keinginannya kuliah di luar negeri. Bagi Syafaq, beasiswa pendidikan luar negeri adalah
salah satu bentuk penghargaan finansial dari pemerintah yang ditawarkan kepada
orang-orang berprestasi di kalangan akademik. Hal ini merupakan salah satu
wujud aksi nyata dari pemerintah guna mencapai tujuan negara Indonesia yang
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk
itulah pemerintah selalu memberikan beasiswa agar negara tidak kehilangan
putra-putri terbaik Indonesia hanya karena ketidakberuntungannya dalam hal finansial. Syafaq pun
berjanji bahwa ketika dia mendapatkan beasiswa, dia tidak akan menggunakan
beasiswa secara biasa-biasa saja tetapi akan menggunakan beasiswa dengan
menjadi mahasiswa yang berkualitas, berintelektual cerdas dan menjadi mahasiswa
yang siap menjadi generasi emas.
Syafaq, sosok seorang anak yang
sholeh begitu kuat dan tegarnya menghadapi cobaan hidup yang tak kunjung usai
ini. Karena pengetahuannya tentang agama dan keimanannya yang begitu tebal, ia
hadapi hidup ini dengan penuh kesabaran. Walau terkadang untuk mendapatkan
sesuap nasi ia harus bekerja seharian mencari batu di sungai dan mengangkutnya
ke kota dan 1 kg batu hanya dihargai Rp.300, ia tetap sabar menerima semua cobaan
ini. Ia percaya bahwasannya akhir dari kesabaran akan berbuah manis. Ia pun juga
percaya seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Quran yang artinya :
“
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah : 5-6)
Melihat
kondisi ekonominya yang tidak memungkinkan, Syafaq tetap semangat mengejar
impian dan cita-citanya itu. Suatu ketika ujian kelulusan pun tiba. Syafaq mempersiapkan
segala sesuatunya dengan maksimal. Akhirnya hasil kelulusan pun keluar, Syafaq
berhasil menjadi peraih peringkat 1 dan nilai tertinggi Ujian Nasional murni
se-Indonesia.Sungguh luar biasa apa yang dialami Syafaq. Dibalik semua yang
dialaminya, tersimpan rahasia Allah yang di luar dugaan umat-Nya.
Kini
saatnya Syafaq mendaftarkan dirinya dan mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi
Luar Negeri dan bersaing dengan calon mahasiswa di seluruh penjuru dunia. Seleksi telah dijalaninya
dengan lancar. Syafaq yakin, Insyaallah ia adalah salah satu calon mahasiswa
yang lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa luar negeri.
Saat
itu banyak orang yang berdesak-desakkan melihat pengumuman hasil seleksi dan
kebetulan pengumuman itu dimuat di surat kabar / koran
“ Ahh… daripada berdesak-desakkan,
mending aku beli Koran aja, kebetulan juga disini banyak yang jual koran “ kata
Syafaq.
Setelah dibuka dan
dilihatnya ternyata Allah berkehendak lain. Rasa kecewa dan GALAU kini
mulai menghinggapi diri Syafaq.
“ MasyaAllah ya Allah, inikah
jawaban darimu atas usaha kerasku selama ini? Haruskah aku terus
melangkah atau cukupkan sampai disini? ”Syafaq yang tak lagi kuat menahan
tangisnya itu, kini tumpahlah airmata laksana jatuhnya permata yang amat sangat berharga.
“Dalam setiap tetes tangis
airmatanya itu sesungguhnya telah terkandung banyak rahasia dari Allah dan
hikmah yang dapat dijadikan pelajaran.”
Dan
ingatlah bahwa setiap manusia itu hanya bisa berusaha dan tetap Allahlah yang
menentukan. Allah memberi apa yang lebih kita butuhkan bukan apa yang kita
inginkan.
Dengan
berat hati Syafaq melepaskan impiannya itu dan meninggalkan tempat itu dengan
penuh kekecewaan. Pulang dengan tampang yang tak berseri dan kini hilanglah
senyum manis, senyum optimisnya
itu.
*Di tulis dalam rangka mengikuti lomba menulis cerpen
~ cerita masih berlanjut
Yogyakarta, 8 Agustus 2016