Selasa, 13 Juni 2017

"Lihat Mereka Dalam Visi"


 

Source picture : http://www.ummi-online.com

“Visi” adalah sesuatu yang membuat orang semakin jelas dan terarah terhadap apa yang ingin ia perjuangkan dimasa depannya. Begitu juga dengan visi orang tua terhadap anak-anaknya yang Allah amanahkan terhadapnya. Orang tua perlu menyusun sebuah visi yang mampu memprediksikan masa depan seperti apa yang akan dihadapi oleh anak-anaknya. Seperti halnya dengan mimpi yang seringkali kita golongkan kedalam dua kategori yaitu “mimpi idealis” dan “mimpi realistis” maka masa depan dalam mendidik anak pun juga dibedakan menjadi dua yaitu masa depan akhirat dan masa depan dunia.
Khusus untuk masa depan dunia, orang tua yang hebat tentu menginginkan anak-anaknya menjadi “Qurrota Ayyun” sang mutiara kebanggaan yang hebat pula. Maka, untuk menjadikannya hebat perlu sebuah didikan yang luar biasa dengan bekal ilmu yang luar biasa pula. Kenapa harus berbekal ilmu yang luar biasa? Karena orang tua yang hebat akan paham betul bahwa sang mujahid dan mujahidah-nya tak cukup hanya diberikan bekal pendidikan yang ia ( red orang tua) peroleh dari keluarga maupun sekolahnya dulu. Why ? “Kurang Menjawab Persoalan” . Satu hal yang pasti bahwa tantangan yang dihadapi oleh sang mujahid dan mujahidah itu adalah tantangan yang jauh berbeda dengan apa yang dihadapi orangtuanya. Benar bahwasannya sebuah pesan yang disampaikan oleh Ummar bin Khattab :
Didiklah anakmu. Sebab ia diciptakan untuk suatu zaman yang tidak sama dengan zamanmu”
            Ketika sebuah visi itu telah digoreskan untuk mimpi yang tersirat diatas kertas masa depan, maka tugas orang tua selanjutnya adalah mensugestikan apa-apa yang telah ia visikan agar sang mujahid dan mujahidah-nya menginternalisasikan hingga menjadikannya bagain dari identitas dirinya. Dan teruntuk para calon orang tua yang siap bertanggungjawab atas hidup dan kehidupan sang mujahid dan mujahidah kelak, yuk mulai dari sekarang kita persiapkan visi-visi mulia itu, kita desain karakter dan masa depan anak-anak kita kelak karena kalau gagal mempersiapkan anak-anak kita sama halnya dengan mempersiapkan kegagalan masa depannya.

Minggu, 07 Agustus 2016

-

Tentang Mimpi Berkuliah Di Luar Negeri



Ketika itu mentari pagi mulai menampakkan sinar terangnya dan suatu ketika ada seorang anak SMA yang bernama Syafaq berjalan menelusuri pantai menuju sekolahnya demi menggapai asa menjadi seorang researcher dengan predikat lulusan luar negeri. Maklum ia hanyalah seorang anak pencari batu yang tinggal di dekat pantai. Setiap hari Syafaq harus menempuh jarak yang tidaklah dekat hanya dengan berjalan kaki, walaupun demikian senyum manis dan senyum optimisnya selalu hidup di wajah tampannya itu dan dengan kekuatan penuh cinta ia berusaha menjadikan dirinya sebagai insan muda cendekia yang mampu mengispirasi Indonesia. Hal ini tak lain ia lakukan hanya demi meraih asanya “ I’m is a young researcher ”. Kurang lebih seperti itulah seorang Syafaq mendefinisikan dirinya sebagai seorang peneliti muda, menjadi seorang peneliti adalah cita-citanya sejak ia memasuki bangku sekolah dimana ia telah membangun mimpinya dengan mengikuti berbagai ajang olimpiade penelitian ataupun kompetisi bergengsi bidang sains baik tingkat regional, nasional, maupun internasional dengan segudang prestasinya yang telah mengharumkan bumi pertiwi ini. 

Dan satu hal yang harus serta perlu kita ketahui bersama agar hal ini mampu memberikan pelajaran serta mampu menginspirasi anak bangsa walaupun ia hanyalah anak seorang pencari batu tetapi semangatnya untuk mewujudkan cita-cita dan impiannya sungguhlah luar biasa. Selain sekolah dan membantu orang tuanya mencari batu, ia juga rajin mengaji dan sholat. Sejak awal masuk kelas 3 SMA ini Syafaq berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih rajin beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak hal yang ia lakukan mulai dari puasa senin kamis, sholat lail/ sholat malam, dan sholat-sholat sunah lainnya.

Semua ini ia lakukan tak lain adalah agar Allah mempermudahnya sekaligus agar bisa terus mendapatkan beasiswa full funded untuk melanjutkan keinginannya kuliah di luar negeri. Bagi Syafaq, beasiswa pendidikan luar negeri adalah salah satu bentuk penghargaan finansial dari pemerintah yang ditawarkan kepada orang-orang berprestasi di kalangan akademik. Hal ini merupakan salah satu wujud aksi nyata dari pemerintah guna mencapai tujuan negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itulah pemerintah selalu memberikan beasiswa agar negara tidak kehilangan putra-putri terbaik Indonesia hanya karena ketidakberuntungannya dalam hal finansial. Syafaq pun berjanji bahwa ketika dia mendapatkan beasiswa, dia tidak akan menggunakan beasiswa secara biasa-biasa saja tetapi akan menggunakan beasiswa dengan menjadi mahasiswa yang berkualitas, berintelektual cerdas dan menjadi mahasiswa yang siap menjadi generasi emas.

Syafaq, sosok seorang anak yang sholeh begitu kuat dan tegarnya menghadapi cobaan hidup yang tak kunjung usai ini. Karena pengetahuannya tentang agama dan keimanannya yang begitu tebal, ia hadapi hidup ini dengan penuh kesabaran. Walau terkadang untuk mendapatkan sesuap nasi ia harus bekerja seharian mencari batu di sungai dan mengangkutnya ke kota dan 1 kg batu hanya dihargai Rp.300, ia tetap sabar menerima semua cobaan ini. Ia percaya bahwasannya akhir dari kesabaran akan berbuah manis. Ia pun juga percaya seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Quran yang artinya :

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah : 5-6)

Melihat kondisi ekonominya yang tidak memungkinkan, Syafaq tetap semangat mengejar impian dan cita-citanya itu. Suatu ketika ujian kelulusan pun tiba. Syafaq mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal. Akhirnya hasil kelulusan pun keluar, Syafaq berhasil menjadi peraih peringkat 1 dan nilai tertinggi Ujian Nasional murni se-Indonesia.Sungguh luar biasa apa yang dialami Syafaq. Dibalik semua yang dialaminya, tersimpan rahasia Allah yang di luar dugaan umat-Nya.

Kini saatnya Syafaq mendaftarkan dirinya dan mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Luar Negeri dan bersaing dengan calon mahasiswa di seluruh penjuru dunia. Seleksi telah dijalaninya dengan lancar. Syafaq yakin, Insyaallah ia adalah salah satu calon mahasiswa yang lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa luar negeri.

          Saat itu banyak orang yang berdesak-desakkan melihat pengumuman hasil seleksi dan kebetulan pengumuman itu dimuat di surat kabar / koran 

“ Ahh… daripada berdesak-desakkan, mending aku beli Koran aja, kebetulan juga disini banyak yang jual koran “ kata Syafaq.

Setelah dibuka dan dilihatnya ternyata Allah berkehendak lain. Rasa kecewa dan GALAU kini mulai menghinggapi diri Syafaq.

“ MasyaAllah ya Allah, inikah jawaban darimu atas usaha kerasku selama ini? Haruskah aku terus melangkah atau cukupkan sampai disini? ”Syafaq yang tak lagi kuat menahan tangisnya itu, kini tumpahlah airmata laksana jatuhnya permata yang amat sangat berharga.

Dalam setiap tetes tangis airmatanya itu sesungguhnya telah terkandung banyak rahasia dari Allah dan hikmah yang dapat dijadikan pelajaran.

Dan ingatlah bahwa setiap manusia itu hanya bisa berusaha dan tetap Allahlah yang menentukan. Allah memberi apa yang lebih kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Dengan berat hati Syafaq melepaskan impiannya itu dan meninggalkan tempat itu dengan penuh kekecewaan. Pulang dengan tampang yang tak berseri dan kini hilanglah senyum manis, senyum optimisnya itu.


*Di tulis dalam rangka mengikuti lomba menulis cerpen
~ cerita masih berlanjut

Yogyakarta, 8 Agustus 2016
         



Tentang Mimpi Berkuliah Di Luar Negeri



Ketika itu mentari pagi mulai menampakkan sinar terangnya dan suatu ketika ada seorang anak SMA yang bernama Syafaq berjalan menelusuri pantai menuju sekolahnya demi menggapai asa menjadi seorang researcher dengan predikat lulusan luar negeri. Maklum ia hanyalah seorang anak pencari batu yang tinggal di dekat pantai. Setiap hari Syafaq harus menempuh jarak yang tidaklah dekat hanya dengan berjalan kaki, walaupun demikian senyum manis dan senyum optimisnya selalu hidup di wajah tampannya itu dan dengan kekuatan penuh cinta ia berusaha menjadikan dirinya sebagai insan muda cendekia yang mampu mengispirasi Indonesia. Hal ini tak lain ia lakukan hanya demi meraih asanya “ I’m is a young researcher ”. Kurang lebih seperti itulah seorang Syafaq mendefinisikan dirinya sebagai seorang peneliti muda, menjadi seorang peneliti adalah cita-citanya sejak ia memasuki bangku sekolah dimana ia telah membangun mimpinya dengan mengikuti berbagai ajang olimpiade penelitian ataupun kompetisi bergengsi bidang sains baik tingkat regional, nasional, maupun internasional dengan segudang prestasinya yang telah mengharumkan bumi pertiwi ini. 

Dan satu hal yang harus serta perlu kita ketahui bersama agar hal ini mampu memberikan pelajaran serta mampu menginspirasi anak bangsa walaupun ia hanyalah anak seorang pencari batu tetapi semangatnya untuk mewujudkan cita-cita dan impiannya sungguhlah luar biasa. Selain sekolah dan membantu orang tuanya mencari batu, ia juga rajin mengaji dan sholat. Sejak awal masuk kelas 3 SMA ini Syafaq berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih rajin beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak hal yang ia lakukan mulai dari puasa senin kamis, sholat lail/ sholat malam, dan sholat-sholat sunah lainnya.

Semua ini ia lakukan tak lain adalah agar Allah mempermudahnya sekaligus agar bisa terus mendapatkan beasiswa full funded untuk melanjutkan keinginannya kuliah di luar negeri. Bagi Syafaq, beasiswa pendidikan luar negeri adalah salah satu bentuk penghargaan finansial dari pemerintah yang ditawarkan kepada orang-orang berprestasi di kalangan akademik. Hal ini merupakan salah satu wujud aksi nyata dari pemerintah guna mencapai tujuan negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itulah pemerintah selalu memberikan beasiswa agar negara tidak kehilangan putra-putri terbaik Indonesia hanya karena ketidakberuntungannya dalam hal finansial. Syafaq pun berjanji bahwa ketika dia mendapatkan beasiswa, dia tidak akan menggunakan beasiswa secara biasa-biasa saja tetapi akan menggunakan beasiswa dengan menjadi mahasiswa yang berkualitas, berintelektual cerdas dan menjadi mahasiswa yang siap menjadi generasi emas.

Syafaq, sosok seorang anak yang sholeh begitu kuat dan tegarnya menghadapi cobaan hidup yang tak kunjung usai ini. Karena pengetahuannya tentang agama dan keimanannya yang begitu tebal, ia hadapi hidup ini dengan penuh kesabaran. Walau terkadang untuk mendapatkan sesuap nasi ia harus bekerja seharian mencari batu di sungai dan mengangkutnya ke kota dan 1 kg batu hanya dihargai Rp.300, ia tetap sabar menerima semua cobaan ini. Ia percaya bahwasannya akhir dari kesabaran akan berbuah manis. Ia pun juga percaya seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Quran yang artinya :

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyrah : 5-6)

Melihat kondisi ekonominya yang tidak memungkinkan, Syafaq tetap semangat mengejar impian dan cita-citanya itu. Suatu ketika ujian kelulusan pun tiba. Syafaq mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal. Akhirnya hasil kelulusan pun keluar, Syafaq berhasil menjadi peraih peringkat 1 dan nilai tertinggi Ujian Nasional murni se-Indonesia.Sungguh luar biasa apa yang dialami Syafaq. Dibalik semua yang dialaminya, tersimpan rahasia Allah yang di luar dugaan umat-Nya.

Kini saatnya Syafaq mendaftarkan dirinya dan mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Luar Negeri dan bersaing dengan calon mahasiswa di seluruh penjuru dunia. Seleksi telah dijalaninya dengan lancar. Syafaq yakin, Insyaallah ia adalah salah satu calon mahasiswa yang lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa luar negeri.

          Saat itu banyak orang yang berdesak-desakkan melihat pengumuman hasil seleksi dan kebetulan pengumuman itu dimuat di surat kabar / koran 

“ Ahh… daripada berdesak-desakkan, mending aku beli Koran aja, kebetulan juga disini banyak yang jual koran “ kata Syafaq.

Setelah dibuka dan dilihatnya ternyata Allah berkehendak lain. Rasa kecewa dan GALAU kini mulai menghinggapi diri Syafaq.

“ MasyaAllah ya Allah, inikah jawaban darimu atas usaha kerasku selama ini? Haruskah aku terus melangkah atau cukupkan sampai disini? ”Syafaq yang tak lagi kuat menahan tangisnya itu, kini tumpahlah airmata laksana jatuhnya permata yang amat sangat berharga.

Dalam setiap tetes tangis airmatanya itu sesungguhnya telah terkandung banyak rahasia dari Allah dan hikmah yang dapat dijadikan pelajaran.

Dan ingatlah bahwa setiap manusia itu hanya bisa berusaha dan tetap Allahlah yang menentukan. Allah memberi apa yang lebih kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Dengan berat hati Syafaq melepaskan impiannya itu dan meninggalkan tempat itu dengan penuh kekecewaan. Pulang dengan tampang yang tak berseri dan kini hilanglah senyum manis, senyum optimisnya itu.


*Di tulis dalam rangka mengikuti lomba menulis cerpen
~ cerita masih berlanjut

Yogyakarta, 8 Agustus 2016