Tahun 2014 silam adalah tahun dimana Vara benar-benar menemui kegagalan yang terus mendera dirinya. Ketika itu adalah saat dimana ia mendaftarkan dirinya ke Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SNMPTN. Dirinya sendiri pun sebenarnya telah memutuskan untuk memasuki ranah perpolitikan, ia memutuskan untuk masuk Jurusan Politik Pemerintahan di UGM. Namun rasanya tidaklah etis tanpa meminta restu kedua orang tuanya.
Suatu ketika , Vara memberanikan diri sekaligus meminta izin bahwa dirinya ingin masuk FISIPOL UGM, suatu pilihan yang tidak selajan dengan keinginan orang tua. Orang tua ketika itu menginginkan untuk masuk PGSD UNY. Berat rasanya bagi Vara untuk memasuki hal yang tidak ia sukai bahkan bisa dibilang tidak ada "passion" bagi dirinya di bidang itu. Namun setelah cerita dengan kakak tingkatnya ketika SMA dulu, Vara pun dinasehati oleh kakak tingkatnya tersebut bahwasannya apa pun yang akan kita lakukan itu dasarnya adalah mendapatkan ridho dari orang tua kita, ketika orang tua kita sudah meridhoi apa yang kita pilih InsyaAllah Allah pun juga meridhoi apa yang kita pilih.
Seperti sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Saalam dari Abdullah Ibu Amar al-'Ash Radliyallaahu 'anhu : " Keridloan Allah tergantung kepada keridlhoan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua. "Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim."
Dari sinilah, Vara mencoba SNMPTN dengan puntuk menurut apa yang di mau oleh orang tuanya, akhirnya ia pun mendaftarkan dirinya melalui jalur SNMPTN dengan polihan pertama adalah PGSD UNY, plihan kedua PGSD UNS, pilihan ketiga pendidikan sosiologi UNS. Dari sekian pilihan, tidak ada yang lolos memalui jalur SNMPTN. Berbagai rasa menyelimuti dirinya ketika itu, sedih, menyerah, putus asa, dan lain sebagainya. Ia pun memutuskan untuk mengikuti bimbel sekaligus untuk persiapan tes STAN (udah pada tau lah yaa STAN itu apa, yang jelas banyak yang menginginkan untuk bisa tembus kampus ini, hehehheh :) ). Dengan jiwa yang lelah, kondisi psikologis yang mulai melelah atas kegagalan yang menderanya tak membuat dirinya untuk tidak mencoba peruntungan lagi melalui jalun lain. yaa, jalur SBMPTN, ia mendaftarkan pilihannya orang tuanya untuk tetap di PGSD UNY. Vara pun tanpa pikir panjang ia menuruti apapun yang diminta oleh orang tuanya, ia menyakinkan diri bahwasannya dan InsyaAllah pilihan orang tua adalah pilihan yang terbaik. Ia kembali mendaftarkan dirinya melalui SBMPTN dengan pilihan pertama PGSD UNY, pilihan kedua Akuntansi UNS, pilihan ketika antropologi UNS. Dari sekian pilihan ini tak ada lagi yang lolos satu pun. Beberapa hari setelahnya adalah pengumuman STAN, dengan penuh ketegangan tangan itu terus mencari-cari namanya di lembar pengumuman,h hancur sudah perasaan, harapan ketika akhirnya adalah nol besar, ia tak lolos. Dah, hancur sudah perasaan dan harapan ketika itu. Saat itu Vara beada pada posisi yang biasa dengan kegagalan. Ia pun untuk memutuskan tidak akan kuliah kecuali di kampus matahari, kampus perjuangan STAN Jakarta.
Ia pun kembali cerita dengan kakak kelasnya tentanag keluh kesahnya mengenai kegagalanya masuk ke perguruan tinggi, kemudian dinasehati yang kurang lebih seperti ini " kadang kita sangat membencinya tapi Allah sangat mencintainya, sebaik prasangka itu prasangka Allah, tak ada yang sia-sia yang sudah kita lakukan, semuanya sudah digariskan sejak kita belum lahir, kadang kita membencinya tapi justru itulah yang terbaik untuk kita, kita tak pernah tau yang terbaik untuk kita, yang jauh lebih tau yang terbaik untuk kita hanyalah Allah,,percayalah Allah punya hal yang lebih indah dibalik semua ini".
Dari sini, seakan ada angin segar yang menghampiri dirinya, ia pun mulai teringat tentang kodratnya sebagai wanita, bahwasannya kelak ia akan menjadi seorang ibu, madrasah bagi anak-anaknya, pendidik utama dan yang pertama-tama bagi manusia yang akan melahirkan peradaban emas, ia pun akhirnya kembali berjuang untuk menggapai asanya, ia sadar bahwasannya untuk mencetak generasi yang emas, pembangun peradaban, dirinya sendiri perlu untuk mencerdaskan diri, yang kelak anak-anaknya berhak untuk lahir dari rahim wanita yang cerdas.
Dari sini, Vara kembali berkeinginan untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya ia mendaftrakan diri ke program studi kebidanan, sempat Vara keterima di program studi tersebut namun akhirnya ia lepaskan, karena biaya untuk sekolah di kesehatan ternyata sangatlah mahal, ia pun menyadari bahwasannya ia tidak akan mungkin untuk egois demi keinginannya sekolah di kebidanan.
Akhirnya ia pun mendaftarkan dirinya ke UGM dengan program studi ekonomika terapan di detik-detik terakhir penutupan pendaftaran. Waktu itu tes pukul 11.00 namun dirinya telah sampai di lokasi tes pukul 07.00. Ketika memasuki ruangan dan memulai tes, ia pasrahkan kepada Allah SWT. Vara mengerjakan tes dengan tanapa melihat soal, ia isi semua lembar jawaban tanpa menggunakan soal. Ia sudah pasrah, dan ia pun sudah lelah. Bahwa inilah dan disinilah titik/puncak ia mampu untuk berjuang. Satu hari setelahnya ia juga masih mencoba peruntungan dengan mendaftarkan dirinya ke UNY. Kali ini pilihan jatuh pada pilihan Vara sendiri. Orang tuanya tidak akan memaksanya untuk mendaftarkan ke PGSD lagi. Setelah tes berlangsung dan beberapa minggu setelahnya pengumuman. Ia kembali didera kegagalan di UNY, dan disaat yang bersamaan ia diterima di UGM. Sungguh bukan main kegirangan saat itu, akhirnya ia pun sadar tentang makna perjuangan, bahwasannya tidak pernah ada yang namanya kegagalan yang ada hanyalah keberhasilan yang tertunda.
Dari sini dapat disimpulkan bahwasannya Allah mengabulkan doa hambanya melalui 3 cara yaitu :
1. Allah mengabulkan secara lansung setiap doa yang dipanjatkannya
2. Allah menunda untuk mengabulkan doa tersebut
3. Allah menggantikan doa tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.
Value :
kita tak pernah tau yang terbaik untuk kita,
yang jauh lebih tau yang terbaik untuk kita hanyalah Allah,,percayalah
Allah punya hal yang lebih indah dibalik semua ini". Nov, maknailah setiap kegagalan itu sebagai batu loncatan untuk menjadikan dirimu lebih tangguh, lebih kuat, karena disinilah kamu diuji seberapa mampu kamu melalui ujian ini. InsyaAllah dengan ujian ini mampu menjadikan pribadimu sebagai pribadi yang lebih kuat, karena disini mengajarkanmu untuk berjuang yang lebih dan lebih. dan ingatlah bahwa segala sesuatu itu antara doa dan usaha itu saling melengkapai. Doa tanpa usaha adalah omong kosong, dan usaha tanpa doa adalah sombong.